cerita ini dialami langsung oleh sahabatku. semoga cerita ini bisa menginspirasikan pembaca.

—————————————————————————————————————————————————-

Adik laki-lakiku mungkin terlihat seperti anak sepuluh tahun kebanyakan. Main PSP, terbahak-bahak menonton Cartoon Network, melempar-lempar bola di dalam rumah sampai memecahkan beberapa pajangan rumah. Tapi cobalah mengamatinya lebih lama daripada sekedar melirik, ia berbeda. Yang jelas ia menghabiskan waktu lebih banyak di rumah seorang diri daripada teman-teman sebayanya. Ia ‘ngobrol’ dengan Wii dan televisi plasma pribadinya lebih lama daripada ia bicara padaku atau ibu kami. Perlu suara yang lantang bahkan senggolan untuk membuatnya berpaling dari kotak kaca itu. Di rumah kami tidak ada pembantu, tidak ada anak-anak apalagi yang sebayanya. Selama ini ia baik-baik saja menghabiskan sore di rumah sendiri ditemani ‘teman-teman’nya yang lain.

Sudah lama aku mendengar istilah OCD (obsessive compulsive disorder), kubaca pada sebuah kisah penderitanya di buku Chiken Soup for Teen beberapa tahun yang lalu. Tapi tak pernah kusangka, sepuluh tahun aku menghadapi salah satunya

Bermula dari kebiasaan kecil seperti mengecek apakah tv sudah dimatikan lebih dari satu kali, lalu memastikan lampu mati dan pintu tertutup berkali-kali. Lalu kemudian kebiasaan-kebiasaan kecil itu berkembang menjadi menyebalkan karena ia terus bertanya tentang sesuatu untuk memastikan. Misalnya ia bertanya berulang-ulang tentang tanggal masuk sekolah, memastikan berulang-ulang buku atau barang yang harus dibawa ke sekolah, menanyakan barang titipannya berkali-kali yang disimpan dalam tas, menanyakan berulang kali apakah minuman yang dihidangkan itu benar pesanannya dan untuknya.

Bahkan semakin parah dengan menanyakan atau memastikan apa saja yang akan dia lakukan. Ia menanyakan apakah dia boleh makan camilan sore, apakah ia boleh menyalakan komputer, apakah ia boleh mandi jam 5, dan ia pun mulai terobsesi dengan jam. Ia harus mandi sore pukul 5 tepat, ia menelpon ibuku berulang-ulang kalau jam 7 belum sampai rumah. Kami pikir awalnya itu hanya karena ia kurang percaya diri melakukan sesuatu, tapi ternyata kebiasaan anehnya tidak berhenti sampai disitu.
Ia semakin parah setelah pulang liburan dari rumah paman di kampung halaman ayahku. Sebelum makan ia berdoa, sejenak sebelum makan ia akan tanya lagi ‘Kak, aku sudah berdoa belum ya?’, kalau kujawab ‘Seingatmu sudah belum?’, maka ia akan mengulang lagi doa yang panjang dan baru mulai makan. Suatu kali juga pernah kami nonton bioskop bersama, 2 menit sekali ia melongok kebawah memastikan sandalnya masih disitu. Ia juga sering bangun di malam hari dan sering kali ia bilang pada ibuku bahwa ia sedang sedih, tapi entah apa yang ia sedihkan.

Adikku memang mudah marah, tapi ternyata emosionalnya selama ini tidak lazim. Generalized Anxiety Disorder (GAD) atau istilah untuk penyakit yang terus-menerus merasa khawatir akan sesuatu yang tidak jelas menjadi diagnosa awal dokter. Ia harus disembuhkan, ini menjadi perang bukan saja adikku, bukan hanya ibuku, tapi semuanya. Aku, ibuku, guru-guru sekolahnya dilibatkan dalam terapi ini. Terapi penyembuhannya butuh dukungan dari seluruh lingkungan.

Kadang aku kasihan melihatnya, lebih kasihan lagi melihat ibuku yang harus menghadapinya. Kadang aku lihat percikan rasa bersalah di mata ibuku yang besar, merasa karenanyalah adikku punya memiliki penyakit psikis ini. Kata dokter, semua berawal dari keluarga, bahkan karakter terbentuk semenjak kita berada dalam kandungan. Aku tahu ibuku sakit sekali ketika adikku dibawa ke psikolog untuk terapi, adikku disuruh menggambar gambaran rumah menurutnya. Ia menggambar dirinya, menggambar aku kakaknya, dan menggambar ayahku. Tapi ia bilang, Ibu sedang pergi kerja. Selama ini adikku mengganggap ibuku lah yang ‘pergi’ karena hanya ibuku yang berani mengenalkan arti kata ‘berpisah’ padanya, sementara ayahku sembunyi dalam kebohongan putih bahwa kami tetap keluarga yang utuh.

Aku pernah marah sekali pada adikku, yang kulampiaskan dengan tidak terlalu peduli padanya, marah karena aku merasa ia berkhianat, ia tidak harus merasakan kepedihan yang kurasakan menghadapi perang-perang keluarga ketika aku kanak-kanak dulu. Aku merasa, ia sungguh beruntung dan tak adil. Ia masih terlalu kecil untuk mengerti hal-hal seperti ‘perceraian’ dan ‘cek-cok’, sedangkan aku? Aku sedang berada pada masa aku sedang belajar menyerap segalanya untuk menjadi seorang dewasa.
Aku tidak pernah dekat secara emosional dengan adikku. Aku bertemu dengannya di sore hari, itu pun aku lebih suka menghabiskan waktu di kamar, sedangkan dia di ruang tivi. Aku lebih sering memerintah daripada ngobrol dengannya, karena memang apa sih yang bisa diceritakan anak kelas 4 SD? Tapi melihat gangguannya ini bertambah parah, aku tahu aku juga harus ambil bagian dalam perang melawan OCD dan GAD ini.

Ibuku sering bilang, tidak satupun di dunia ini yang sempurna, apalagi keluarga.. Tidak ada keluarga yang sempurna. Keluarga kami jelas bukan salah satunya. Tapi kesempurnaan itu diisi di dalam, bagaimana kita menghayati peran kita dalam peperangan melawan hidup ini, bagaimana posisi kita dalam lapangan untuk meng-gol-kan berbagai tujuan hidup. Dan tim itu adalah keluarga. Aku sudah lama mengerti bahwa keluarga tidak harus tinggal dalam satu rumah, makan malam di meja yang sama, berdoa sebelum tidur bersama-sama.Keluarga tidaklah harus lengkap dengan ayah-ibu-kakak dan adik seperti dalam gambaran ideal Keluarga Cemara (dulu aku sangaaaat membenci serial itu, bagiku itu menebar kebohongan publik). Keluarga kadang menyakiti, kadang saling melukai, tapi lebih sering lagi membahagiakan. Aku sering bertengkar dengan ibuku, aku sering berantem dengan adikku, aku sering disakiti ayahku dan kukira aku tak akan dapat memaafkannya.

Tapi itu lah keluarga sesungguhnya. Satu-satunya hal yang kutahu akan tetap sama setelah aku pulang dari kuliah nanti, sementara aku mengkhawatirkan semua kehidupan yang akan berubah, adalah ibu dan adikku. Karena peran dari sebuah keluarga adalah seberapa lamapun kau keluar dari tim, mereka akan tetap disana, di posisi yang sama, tanpa pernah mengisi posisimu dengan pengganti siapapun, dan ketika kau siap kembali, mereka akan ada disana untuk bersiap melanjutkan peperangan, menciptakan gol-gol kehidupan yang akan kau rayakan bersama. Bersama seluruh keluargamu.

Dan kini, saatnya aku mengambil peranku sebagai anak dan kakak dalam keluarga mungilku, berperang melawan gangguan pada adikku. Kami tidak takut! Kami bisa menang atas OCD, GAD dan apapun gangguan psikis yang dihadapi aku sekeluarga! :)

Cheers,
Ivy Londa

—————————————————————————————————————————————————-

Deti Triani # G2410026 # Laskar 15